Archive for December, 2007

kebahagiaan hidup

Wednesday, December 26th, 2007

Kemana engkau akan mencari kebahagiaan hidup? Apakah dengan mendatangi
tempat-tempat hiburan malam dapat memberikan kesejukan hati? Dengan
meneguk minuman beralkohol serta berbelanja sepuas-puasnya di
Mall-Mall? Benarkah segala kegelisahan akan hilang dan kegundahan akan
berganti dengan rasa tenang? Pasti jawabannya tidak.
Semua itu tidak lain akan mendatangkan kegundahan baru. Semakin engkau
bawa diri dan hanyut dalam bentuk seperti itu, maka engkau akan semakin
remuk, perlahan tapi pasti tanpa engkau sadari. Masihkah engkau
mengukur kebahagiaan itu dengan limpahan materi, kedudukan yang tinggi,
dan nama yang sering disebut-sebut dan di puji? Memang engkau tampak
mampu berjalan dengan tenang secara lahiriah, namun batinmu begitu
tersiksa, terasa kosong, hampa, terasa tak bermakna.

Sadarilah saudaraku, sesungguhnya ketenangan dan kebahagiaan yang
engkau cari ada dalam kerelaan dan kesyukuran diri. Sebuah kesyukuran
yang wujud dalam bentuk amal-amal sholehmu dan kelapangan hatimu atas
setiap ketentuan yang menghampiri di setiap detik kehidupanmu.
Berbahagialah engkau, jika setiap kenikmatan yang menghampirimu
menjadikanmu semakin jatuh dalam sujud kesyukuran. Berbahagialah
engkau, ketika musibah tiada henti menerpamu, namun engkau tetap tegar
dan tak berkeluh kesah atasnya.

Tiada usaha kecuali semua dicoba bungkus dengan kain kesabaran. Dan
tiada engkau melihat kedua-duanya kecuali merupakan sebuah bentuk
kebaikan. Sungguh ajaib jika engkau mampu berlaku demikian. Dan hanya
bagi seorang mukmin sajalah semua itu lebih mudah dilakukan.

qurban terbaik

Wednesday, December 19th, 2007

 

Kafemuslimah.com

Kuhentikan Mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan Qurban.
Saat pintu Mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku, dengan
spontan aku menutupnya dengan saputangan. Suasana di tempat itu sangat
ramai, dari para penjual yang hanya bersarung hingga ibu-ibu
berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut
menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul
Adha nanti, sebuah
pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dini tentang pengorbanan Nabi Ibrahim & Nabi Ismail.

Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi memilih
hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti. Mataku tertuju pada
seekor kambing coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar melebihi
kambing-kambing di sekitarnya.

" Berapa harga kambing yang itu Pak ?" ujarku menunjuk kambing coklat tersebut.

" Yang coklat itu yang terbesar Pak. Kambing Mega Super dua juta rupiah
tidak kurang" kata si pedagang berpromosi matanya berkeliling sambil
tetap melayani calon pembeli lainnya.

" Tidak bisa turun Pak?" kataku mencoba bernegosiasi.

" Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba Mahal" is pedagang bertahan.

" Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan penawaran pertama

" Maaf Pak, masih jauh." ujarnya cuek.

Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran terendah
berharap si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan harganya.

" Oke Pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?" kataku

" Masih belum nutup Pak " ujarnya tetap cuek

" Yang sedang Mahal kan harga minyak Pak. Kenapa kambing ikut naik?" ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.

" Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa
datang ke sini sendiri.Tetap saja harus di angkut Mobil Pak, Dan Mobil
bahan bakarnya bukan rumput" kata is pedagang meledek.

Dalam hati aku berkata, a lot juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan
harga selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku
alihkan ke kambing lainnya yang lebih kecil dari is coklat. Lumayan
bila Ada perbedaan harga lima ratus ribu. Kebetulan dari tempat penjual
kambing ini, aku berencana ke toko ban Mobil.

Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya.
Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini
selangit.

" Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?" kataku kemudian

" Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu
rupiah" katanya Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang
kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi. Meskipun pakaian
"korpri" yang Ia kenakan lusuh, tetapi wajahnya masih terlihat segar.

" Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?" katanya kagum

" Dua juta tidak kurang tidak lebih kek." kata is pedagang setengah malas menjawab setelah melihat penampilan is kakek.

" Weleh larang men regane (Mahal benar harganya) ?" kata is kakek dalam
bahasa Purwokertoan " bisa di tawar-kan ya mas ?" lanjutnya mencoba
negosiasi juga.

" Cari kambing yang lain aja kek. " is pedagang terlihat semakin malas meladeni.

" Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik LAN gagah Qurban taun iki
(Aku mau yang terbaik Dan gagah untuk Qurban tahun ini) Duit-e
(uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas." katanya tetap
bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya.
Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di bukanya, enam
belas lembar uang seratus ribuan Dan sembilan lembar uang lima puluh
ribuan dikeluarkan dari dalamnya. " Iki (ini) dua juta rupiah mas.
Weduse (kambingnya) dianter ke rumah ya mas?" lanjutnya mantap tetapi
tetap bersahaja.

Is pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang memperhatikannya
sejak tadi. Dengan wajah masih ragu tidak percaya is pedagang menerima
uang yang disodorkan is kakek, kemudian dihitungnya perlahan lembar
demi lembar uang itu.

" Kek, ini Ada lebih lima puluh ribu rupiah" is pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan

" Ora Ono ongkos kirime tho…?" (Enggak Ada ongkos kirimnya ya?) is kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih

" Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" is pedagang yg cukup jujur
memberikan lima puluh ribu ke kakek " mau di antar ke mana mbah?"
(tiba-tiba panggilan kakek berubah menjadi mbah)

" Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di tabung neh (bisa
ditabung lagi)" kata si kakek sambil menerimanya " tulung anterke ning
deso cedak kono yo (tolong antar ke desa dekat itu ya), sak sampene
ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid Baiturrohman, takon ae
umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Pasir
Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah anak-anak sudah
tahu)."

Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di
sepakatinya,si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua yang di
sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari X-trail milikku.
Perlahan di angkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di kayuhnya
tetapdengan semangat.

Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya
berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku. Kakek tua pensiunan
pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda engkol, sanggup membeli
hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya.Aku tidak tahu persis berapa
uang pensiunan PNS yang diterima setiap bulan oleh si kakek. Yang aku
tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang berdiridengan
mewah, rata-rata penduduk ekitar desa Pasir Mukti hanya petani dan para
pensiunan pegawai rendahan.

Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding penghasilanku
sebagai Manajer perusahaan swasta. Yang sanggup membeli rumah di
kawasan cukup bergengsi Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang
harga ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super Yang sanggup
mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan memilikinya Yang
sanggup membeli hewan
Qurban dua ekor sapi sekaligus

Tapi apa yang aku pikirkan? Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang
jauh di bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari service rutin
mobil X-Trail, kendaraanku di dunia fana. Sementara untuk kendaraanku
di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali saat membelinya.

Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia balikkan hati
hambaMu yang tak pernah berSyukur ini ke arah orang yang pandai
menSyukuri nikmatMU

(untuk qta renungkan :) )

CINTAANEH DAN NAPSU

Thursday, December 13th, 2007

cinta sebuah misteri kehidupan. datang dan
pergi tak terduga. membawa ngin kesejukan namun bisa menghantam
kehidupan bagai badai. aduh…..pokoknya kita gak tau mesti berbuat apa
dengan cinta. kadangkala manusia sering menyamakan cita dengan nafsu.
tapi apa itu benar ?

cinta dan nafsu berjalan beriringan. ada cinta ada nafsu. namun jangan
salah, dewasa ini ada juga nafsu tanpa dilandasi dengan cinta.

sekarang terserah kita sebagai manusia yang menjalaninya. jangan
seperti binatang, kalau ada hasrat kita melakukannya tanpa dasar
cinta…..

Karena Saya Bukan Orang Baik

Monday, December 3rd, 2007
Karena Saya Bukan Orang Baik

dec, ‘02 12:04 AM
for everyone

Saya tidak tahu, apa yang terlintas dalam pikiran anda, ketika membaca judul tulisan diatas. Mungkin heran, lucu, aneh, penasaran, sebel, atau….Entahlah! Yang paling tahu, tentu anda sendiri bukan…?

Apapun reaksi dan perasaan anda, bagi saya no problem. Namun yang jelas, itu bukan hanya sekedar wacana. Itu adalah pengakuan dan pernyataan saya yang sejujur-jujurnya mengenai diri saya. Sesuai dengan keadaan diri saya yang sebenarnya.

Tadinya, saya pun tidak begitu menyadari hal itu. Saya baru ngeh, ketika saya mendapat dua buah pertanyaan yang membuat kening saya agak berkerut…

Apakah Anda merasakan perubahan dalam kehidupan anda selama ini…?

Pertanyaan itu sempat membuat saya merenung…Bagaimana tidak! Selama ini, saya asyik-asyik saja menjalani kehidupan ini. Mengalir begitu saja, tanpa pernah memikirkan ini dan itu. Asal punya uang, perut selalu kenyang dan tak pernah punya utang…Semua itu sudah membuat saya merasa senang dan selalu riang.

Dan sepertinya bukan hanya saya, tapi banyak juga orang-orang di sekeliling saya—mungkin termasuk juga anda, he..he..—yang cukup merasa puas dan enjoy-enjoy saja dengan keadaannya sekarang ini.

Pertanyaan itu terasa mengusik dan menggelitik, sehingga saya menjadi penasaran ingin mencari tahu jawabannya. Memaksa saya untuk mau berfikir tentang diri saya, tentang hidup dan kehidupan saya. Dan saya pun mulai bertanya-tanya pada diri saya sendiri. Benarkah saya harus berubah? Bukankah tanpa keinginan untuk berubah pun, selama masih hidup, kita akan mengalami perubahan?

Perubahan dalam hidup adalah sesuatu yang alamiah. Kita di sebut hidup karena kita berubah. Tidak ada yang tidak berubah dalam hidup ini, kecuali perubahan itu sendiri. Disadari ataupun tidak. Segala sesuatu yang ada pada diri kita dan segala sesuatu yang ada di sekeliling kita terus berubah.

Selama masih hidup kita akan terus mengalami perubahan. Sebagai contoh; dulu kita kecil, lalu berubah menjadi besar. Sekarang kita muda-belia, perlahan-lahan akan berubah menjadi tua. Sebelumnya kita tidak tahu apa-apa, sekarang sudah lumayan cukup banyak yang kita ketahui. Dan perubahan-perubahan yang lainnya, yang tak mungkin saya tuliskan semuanya di sini. Karena tentu anda akan cape membacanya dan saya pun pegel menuliskannya…

Dulu Pak SBY pernah gembar-gembor bahwa ’perubahan itu semakin dekat’. Saya pikir, ada benarnya juga! Perubahan memang akan membuat kita semakin dekat. Perubahan akan mendekatkan kita pada kemajuan atau pada kehancuran. Buktinya bisa kita lihat sekarang ini…!

Hanya ada dua dampak dari perubahan, menjadi lebih baik atau lebih buruk. Idealnya sih, kita harus berubah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Supaya hidup kita lebih bermakna, lebih bermanfaat dan lebih beruntung. Sebagaimana kata Rasulullah: “Barang siapa yang hari ini lebih jelek daripada hari kemarin, maka ia termasuk orang yang celaka. Barang siapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang rugi. Dan barang siapa hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung”

Sekarang tinggal terserah kita! Lebih cenderung kemana? Ingin menjadi orang yang celaka, orang yang merugi atau orang yang beruntung..? Memang ini bukan pilihan yang mudah, perlu tekad yang kuat dan kegigihan yang luar biasa untuk merealisasikannya. Mau tidak mau kita harus berubah menjadi lebih baik, kalau kita ingin beruntung. Berusaha merubah diri sendiri, atau perubahan yang akan memaksa merubah kita…

Orang yang beruntung, setiap waktu selalu bertambah ilmu, iman dan amalnya. Orang yang beruntung selalu ingin menjadi lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi dari waktu sebelumnya. Orang yang beruntung selalu punya tekad dan semangat untuk selalu memperbaiki dirinya, memperbaiki kehidupannya…

Mengapa kita harus memperbaiki kehidupan kita…?

Ini pertanyaan kedua yang mengusik saya. Saya pun kembali mengerutkan kening untuk yang kedua kalinya. Mencari seribu satu alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu.

Dan setelah melewati perenungan yang cukup panjang dan dalam. Akhirnya saya menemukan sebuah kesimpulan sebagai jawaban dari pertanyaan diatas. Sebuah jawaban yang membuat saya merasa tentram dan nyaman.

Mengapa kita harus memperbaiki kehidupan kita…?
Kini saya bisa menjawab pertanyaan itu dengan yakin dan penuh rasa percaya diri. 
”Karena Saya Bukan Orang Baik…!”
Bagaimana dengan anda….?