Maaf, Aku Bukan Orang Baik
Monday, November 26th, 2007Maaf, Aku Bukan Orang Baik Nov
22, ‘07 10:20 PM
for everyone
Mala m gelap tak berbintang, anginpun
tidak berhembus kencang. Pintu itu
sudah dibukakan oleh tangan-tangan
gem pal tak berbulu. Senyum ramah
dipaksakan menyambut ayunan langkah
kaki. Kerlipan lampu berwarna warni
temaram menggantikan indahnya kunang-
kunang. Dentuman musik hingar-bingar
men debarkan dada ini, serasa jantung
ingin keluar dari rongga tulang iga.
Botol-bo tol minuman tertata rapi
diatas meja, asbak kaca sebesar piring
makan masih bersih mengkilap. Lengan
halus lemah gemulai siap menggelayut
diata s pundak ketika sodoran butiran
kecil pahit masuk kedalam mulut yang
masih mengepul asap rokok putih. Air
mineral yang harganya saat itu hampir
sepuluh kali lipat dari biasanya mulai
membasahi kerongkongan.
Tak lama terduduk disitu, kaki mulai
lemas, telapak tangan seperti membeku.
Dentuman musik memaksa kepala
bergoyang, rahang menjadi kaku, bahu
bergerak kesana kemari, tangan
melambai-l ambai dan kaki tidak mau
terdiam. Enam jam dalam kegaduhan,
enam jam dalam kegembiraan, enam jam
dalam khayalan, enam jam dalam
kebosanan, enam jam dalam kepalsuan.
Pa gi menyapa tak terasa diruangan ber-
ac namun pengap dan berasap. Disudut
sana ada yang tergeletak tak berdaya,
disebera ng sana ada yang masih
bergoyang, didepan ada yang tertidur,
dibelak ang masih banyak yang
kebingungan, dan disini ternyata sudah
gelisah berteman bidadari sesaat yang
terkapar dalam pelukan Arjuna dalam
kepalsuan.< BR>
Maaf kawan, aku bukan orang baik. Ini
adalah hidupku, hampir setiap hari aku
begini. Uang tak mudah dicari, namun
mudah sekali melepaskannya. Sampaikan
salamku untuk mereka disana. Jangan
sampai mereka mengikuti jalanku,
jauhilah sudut kota dimana tempat
semacam ini menjadi santapan sehari-
hari. (sb)
(Pes an seorang sahabat yang masih
silau akan kenikmatan dunia. Seorang
sahabat yang berat meninggalkan
kepa lsuan ini. Seorang sahabat yang
ingin menjadi seperti dirinya yang
dahulu, namun… terasa berat.)