June 23rd, 2008 by looxie

CINTA

mawarAKU bicara perihal Cinta????…

Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia,
Walau jalannya sukar dan curam.
Dan pabila sayapnva memelukmu menyerahlah kepadanya.
Walau pedang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu.
Dan kalau dia bicara padamu percayalah padanya.
Walau suaranya bisa membuyarkan mimpi-mimpimu bagai angin utara mengobrak-abrik taman.
Karena sebagaimana cinta memahkotai engkau, demikian pula dia

kan menyalibmu.

Sebagaimana dia ada untuk pertumbuhanmu, demikian pula dia ada untuk pemanakasanmu.

Sebagaimana dia mendaki kepuncakmu dan membelai mesra ranting-rantingmu nan paling lembut yang bergetar dalam cahaya matahari.
Demikian pula dia akan menghunjam ke akarmu dan mengguncang-guncangnya di dalam cengkeraman mereka kepada kami.
Laksana ikatan-ikatan dia menghimpun engkau pada dirinya sendiri.

Dia menebah engkau hingga engkau telanjang.
Dia mengetam engkau demi membebaskan engkau dari kulit arimu.
Dia menggosok-gosokkan engkau sampai putih bersih.
Dia merembas engkau hingga kau menjadi liar;
Dan kemudian dia mengangkat engkau ke api sucinya.

Sehingga engkau bisa menjadi roti suci untuk pesta kudus Tuhan.

Semua ini akan ditunaikan padamu oleh Sang Cinta, supaya bisa kaupahami rahasia hatimu, dan di dalam pemahaman dia menjadi sekeping hati Kehidupan.

Namun pabila dalam ketakutanmu kau hanya akan mencari kedamaian dan kenikmatan cinta.Maka lebih baiklah bagimu kalau kaututupi ketelanjanganmu dan menyingkir dari lantai-penebah cinta.

Memasuki dunia tanpa musim tempat kaudapat tertawa, tapi tak seluruh gelak tawamu, dan menangis, tapi tak sehabis semua airmatamu.

Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tiada mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri.
Cinta tiada memiliki, pun tiada ingin dimiliki; Karena cinta telah cukup bagi cinta.

Pabila kau mencintai kau takkan berkata, “Tuhan ada di dalam hatiku,” tapi sebaliknya, “Aku berada di dalam hati Tuhan”.

Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya Cinta, sebab cinta, pabila dia menilaimu memang pantas, mengarahkan jalanmu.

Cinta tak menginginkan yang lain kecuali memenuhi dirinya. Namun pabila kau mencintai dan terpaksa memiliki berbagai keinginan, biarlah ini menjadi aneka keinginanmu: Meluluhkan diri dan mengalir bagaikan kali, yang menyanyikan melodinya bagai sang malam.

Mengenali penderitaan dari kelembutan yang begitu jauh.
Merasa dilukai akibat pemahamanmu sendiri tenung cinta;
Dan meneteskan darah dengan ikhlas dan gembira.
Terjaga di kala fajar dengan hati seringan awan dan mensyukuri hari haru penuh cahaya kasih;

Istirah di kala siang dan merenungkan kegembiraan cinta yang meluap-luap;Kembali ke rumah di kala senja dengan rasa syukur;

Dan lalu tertidur dengan doa bagi kekasih di dalam hatimu dan sebuah gita puji pada bibirmu.

khahlil gibran

  woww pertama kita baca kata2 itu kita kan terpana, yah memang puisi2 karya khahlil gibran begitu menyentuh di kalbu bisa membuat setiap orang terkagum kagum

  pertama kalii gw baca tuh puisi gw nga terlalu suka, karna gaya bahasanya yang terlalu hiperbola,dan terasa berat .tapi setelah kita baca berulang2 akan tersa betapa maknanya begitu dalam,,..

dah ah ngomongin cinta molo dari tadi  eh salah maksudnya ngomongin puisi cintanya khahlil gibran,  heheeee  sama aja kaleee,yang pasti saat ini gw gi bener2 kangen ma seseorang nun jauh di sana,..

   aku kangen  ma kodox hijaukuhh

                 ^_^

TENTANG AKU

June 23rd, 2008 by looxie

1_833683343l aku adalah seorang manusia biasa
aku berjalan seperti buih dan berhenti seperti awan…….

aku mempunyai sepasang sayap kata2 yang indah yang akan mengatakan kebenaran di tengah2 dusta ……….

di sini aku memberhentikan jiwaku
memejamkan mataku di pelupuk malam dan aku bernyanyi …
suaraku menggema di sela angin menari di telinga yang ingin mendengar kebenaran dan keihkhlasan ……

itulah aku

hahaaaaaaa   pasti banyak yang bilang gw nyontek nulis tuh puisi,..padahal aslinya gw nga nyontek cum terinspirasi oleh puisina khahlil gibran, sama aja kalee gw nyontek, bodo ah yang pasti saat ini gw tengah menanti saat2 yang paling indah dalam hidup gw,..ya tuhan semoga semua berjalan dengan baik,…

semoga semua harapan dan asa menjadi kenyataan, semoga penantian panjang berakhir dengan  kebahagian 

semoga…….

                                           edited by: looxman    2008 on june

June 22nd, 2008 by looxie

                                      Empat Tanda Cinta Sejati

Anda dapat menemukan seseorang yang benar-benar sangat cocok untuk dijadikan pasangan hidup dan bahkan memilikinya lebih dari satu dalam hidup Anda. Tetapi kemudian bagaimana Anda benar-benar mengetahuinya dengan yakin?

Berikut bantuan untuk meyakinkan keputusan hubungan Anda

Ungkapkan keinginan dan mengapa menginginkannya?

Anda harus memiliki kejelasan tidak hanya tentang apa yang Anda ingin dari cinta, tetapi apa yang diinginkan dalam hidup dengan pasangan Anda. Segera setelah mengetahui itu, Anda akan yakin telah masuk dalam suatu hubungan dengan tujuan dan visi yang jelas seperti apa hubungan Anda dengan dia. Menentukan kriteria akan membantu terhindar dari kesulitan terlibat dengan seseorang yang tidak cocok bagi Anda.

Ukur romantisme Anda

Meskipun kedengarannya basi, buatlah daftar harapan pasangan ideal Anda. Isi dengan keinginan pasangan sempurna, istimewa tetapi realistis. Semakin banyak Anda tahu apa yang cocok bagi Anda, semakin mudah menangkap momen kapan dia bisa berjalan bersama Anda.

Cintai diri sendiri

Ada pepatah lama mengatakan: “Anda tidak akan bisa membahagiakan orang lain sampai Anda membahagiakan diri sendiri.” Hal ini tidak hanya akan membantu pada saat bertemu dengan seseorang yang baru tetapi juga membantu Anda memulai hubungan pada saat yang tepat.

Jadilah yang terbaik

Cinta bukan hanya sekedar mencari seseorang yang akan membuat Anda bahagia. Kecocokan akan menghasilkan yang terbaik- mungkin seseorang yang akan membuat Anda menjadi orang yang bahagia dan lebih produktif.

Cara terbaik untuk menemukan cinta sejati adalah pintar-pintarlah memilih seseorang dan jelas mengapa Anda memilihnya.

Menikah …lah !!!

June 14th, 2008 by looxie

Menikah …lah !!!

Maha Benar Allah yang telah berfirman : "Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu".

Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah ! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah, hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na’udzubillah ! Dan Allah telah berfirman : "Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor" (Qs. Al Israa’ : 32).
Dasar Pemikiran

Dari Al Qur��an dan Al Hadits :

1. �"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).
2. "Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah." (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).
3. �Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui�� (Qs. Yaa Siin (36) : 36).
4. Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik (Qs. An Nahl (16) : 72).
5. Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).
6. Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).
7. Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. (Qs. An Nisaa (4) : 1).
8. Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).
9. ..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..(Qs. An Nisaa’ (4) : 3).
10. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata. (Qs. Al Ahzaab (33) : 36).
11. Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda: "Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !"(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).
12. Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah (HR. Tirmidzi).
13. Dari Aisyah, "Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu�� (HR. Hakim dan Abu Dawud). 14.�Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya." (HR. Baihaqi).
14. Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).
15. "Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah� (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) : a.�Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b.�Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c.�Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram."
16. "Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara." (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).
17. Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak (HR. Abu Dawud).
18. Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).
19. Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).
20. Rasulullah SAW. bersabda : "Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah" (HR. Bukhari).
21. Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang (HR. Abu Ya��la dan Thabrani).
22. Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat. (HR. Ibnu Majah,dhaif).
23. Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).

Tujuan Pernikahan

1. Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.
2. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
3. Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim.
4. Mendapatkan cinta dan kasih sayang.
5. Ketenangan Jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya).
6. Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat).
7. Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan kekeluargaan)

Kesiapan Pribadi

1. Kondisi Qalb yang sudah mantap dan makin bertambah yakin setelah istikharah. Rasulullah SAW. bersabda : ��Man Jadda Wa Jadda�� (Siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan berhasil melewati rintangan itu).
2. Termasuk wajib nikah (sulit untuk shaum).
3. Termasuk� tathhir (mensucikan diri).
4. Secara materi, Insya Allah siap. ��Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya��� (Qs. At Thalaq (65) : 7)

Akibat Menunda atau Mempersulit Pernikahan

* Kerusakan dan kehancuran moral akibat pacaran dan free sex.
* Tertunda lahirnya generasi penerus risalah.
* Tidak tenangnya Ruhani dan perasaan, karena Allah baru memberi ketenangan dan kasih sayang bagi orang yang menikah.
* Menanggung dosa di akhirat kelak, karena tidak dikerjakannya kewajiban menikah saat syarat yang Allah dan RasulNya tetapkan terpenuhi.
* Apalagi sampai bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Rasulullah SAW. bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan." (HR. Ahmad) dan "Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya" (HR. Thabrani dan Baihaqi).. Astaghfirullahaladzim.. Na’udzubillahi min dzalik

Namun, umumnya yang terjadi di masyarakat di seputar pernikahan adalah sebagai berikut ini :

* Status yang mulia bukan lagi yang taqwa, melainkan gelar yang disandang:Ir, DR, SE, SH, ST, dsb
* Pesta pernikahan yang wah / mahar yang tinggi, sebab merupakan kebanggaan tersendiri, bukan di selenggarakan penuh ketawadhu’an sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. (Pernikahan hendaklah dilandasi semata-mata hanya mencari ridha Allah dan RasulNya. Bukan di campuri dengan harapan ridha dari� manusia (sanjungan, tidak enak kata orang). Saya yakin sekali.. bila Allah ridha pada apa yang kita kerjakan, maka kita akan selamat di dunia dan di akhirat kelak.)
* Pernikahan dianggap penghalang untuk menyenangkan orang tua.
* Masyarakat menganggap pernikahan akan merepotkan Studi, padahal justru dengan menikah penglihatan lebih terjaga dari hal-hal yang haram, dan semakin semangat menyelesaikan kuliah.

Memperbaiki Niat :

Innamal a’malu binniyat……. Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan.

Niat Ketika Memilih Pendamping

Rasulullah bersabda "Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya."(HR. Thabrani).

"Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama". (HR. Ibnu Majah).

Nabi SAW. bersabda : Janganlah kalian menikahi kerabat dekat, sebab (akibatnya) dapat melahirkan anak yang lemah (baik akal dan fisiknya) (Al Hadits).

Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, ��Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama." (HR. Muslim dan Tirmidzi). Niat dalam Proses Pernikahan

Masalah niat tak berhenti sampai memilih pendamping. Niat masih terus menyertai berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan. Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, menyelenggarakan walimah. Walimah lebih dari dua hari lebih dekat pada mudharat, sedang walimah hari ketiga termasuk riya’. "Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan."(Qs. An Nisaa (4) : 4).

Rasulullah SAW bersabda : "Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya" (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih). Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, "Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)" (HR. Ahmad). Nabi SAW pernah berjanji : "Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya." (HR. Ashhabus Sunan). Dari Anas, dia berkata : " Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya" (Ditakhrij dari An Nasa’i)..Subhanallah..

Proses pernikahan mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan mudah insya Allah akan mendekatkan kepada bersihnya niat, memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat. Sedangkan mempersulit proses pernikahan akan mengkotori niat. "Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing." (HR. Bukhari dan Muslim)

Pernikahan haruslah memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud Lillah, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus Billah, sesuai dengan ketentuan dari Allah.. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah.

Sehingga dalam penyelenggaraan nikah tidak bermaksiat pada Allah ; misalnya : adanya pemisahan antara tamu lelaki dan wanita, tidak berlebih-lebihan, tidak makan sambil berdiri (adab makanan dimasyarakat biasanya standing party-ini yang harus di hindari, padahal tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang demikian), Pengantin tidak disandingkan, adab mendo’akan pengantin dengan do’a : Barokallahu laka wa baroka ‘alaikum wa jama’a baynakuma fii khoir.. (Semoga Allah membarakahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian), tidak bersalaman dengan lawan jenis, Tidak berhias secara berlebihan ("Dan janganlah bertabarruj (berhias) seperti tabarrujnya jahiliyah yang pertama" - Qs. Al Ahzab (33),

Meraih Pernikahan Ruhani

Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kecintaan dan kerinduan pada Allah, maka ia akan berusaha mencari seseorang yang sama dengannya. Secara psikologis, seseorang akan merasa tenang dan tentram jika berdampingan dengan orang yang sama dengannya, baik dalam perasaan, pandangan hidup dan lain sebagainya. Karena itu, berbahagialah seseorang yang dapat merasakan cinta Allah dari pasangan hidupnya, yakni orang yang dalam hatinya Allah hadir secara penuh. Mereka saling mencintai bukan atas nama diri mereka, melainkan atas nama Allah dan untuk Allah.

Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah. Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai. Itulah yang dimaksud dengan pernikahan ruhani. KALO KITA BERKUALITAS DI SISI ALLAH, PASTI YANG AKAN DATANG JUGA SEORANG (JODOH UNTUK KITA) YANG BERKUALITAS� PULA (Al Izzah 18 / Th. 2)

Penutup

"Hai, orang-orang beriman !! Janganlah kamu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah kepada kamu dan jangan kamu melampaui batas, karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas." (Qs. Al Maidaah (5) : 87).

Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Qs. Alam Nasyrah (94) : 5- 6 ).

"Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan.. YA ALLAH BERILAH PAHALA DALAM MUSIBAHKU KALI INI DAN GANTIKAN UNTUKKU YANG LEBIH BAIK DARINYA.. Amiin"

====================================
Dedicated to : My inspiration …. yang pernah singgah dan menghuni "hati" …Astaghfirullah !! Saat langkah ada didunia maya, tak menapak di bumi-Nya..Lalu, kucoba atur gelombang asa..Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu.. Kuharap ada penolong dari hambaMu meneguhkan tapak kakiku di jalan-Mu dan menemani panjangnya jalan dakwah yang harus aku titi.. " Saat Cinta dan Rindu� tuk gapai Syurga dan Syahid di jalanNya makin membuncah.."
***
====================================

Maraji / Referensi :

1. Majalah Ishlah, Edisi Awal Tahun 1995.
2. Fiqh Islam, H. Sulaiman Rasyid, 1994, Cet. 27, Bandung, Sinar Baru Algesindo.
3. Fikih Sunnah 6, Sayyid Sabiq, 1980, cet. 15, Bandung, Pt. Al Ma’arif.
4. Kupinang Engkau dengan Hamdalah, Muhammad Faudzil Adhim, 1998, Yogyakarta, Mitra Pustaka.
5. Indahnya Pernikahan Dini, Muhammad Faudzil Adhim, 2002, Cet. 1, Jakarta, Gema Insani Press.
6. Rintangan Pernikahan dan Pemecahannya, Abdullah Nashih Ulwan, 1997, Cet. 1, Jakarta, Studia Press.
7. Perkawinan Masalah Orang muda, Orang Tua dan Negara, Abdullah Nashih Ulwan, 1996, Cet. 5, Jakarta, Gema Insani Press.
8. Kebebasan Wanita, jilid 1, 5, 6, A.H.A. Syuqqah, 1998, Cet.1, Jakarta, Gema Insani Press
9. Sulitnya Berumah Tangga, Muhammad Utsman Al Khasyt, 1999, Cet. 18, Jakarta, Gema Insani Press.
10. Majalah Cerdas Pemuda Islam Al Izzah, Wahai Pemuda, Menikahlah, No. 17/Th. 2 31 Mei 2001, Jakarta, YPDS Al Mukhtar.

Sebuah Renungan

June 14th, 2008 by looxie

Sebuah Renungan

Apakah makna hidup saya?
Kenapa hidup saya terasa datar saja,
berputar-putar dari hari ke hari?
Hanya pergantian episode senang dan sedih?
Mengapa saya seperti dikuasai oleh kehidupan saya?’
dan untuk apa semua ini?

Sebenarnya, Allah setiap saat ‘memanggil-manggil’ kita untuk kembali kepada-Nya. Dengan cara apa saja. Dia, dengan kasih sayang-Nya,terkadang membuat suasana kehidupan seorang anak manusia sedemikian rupa sehingga kalbunya dibuat-Nya ‘menoleh’ kepada Allah. Hanya saja, teramat sedikit orang yang mendengarkan, atau berusaha mendengarkan,panggilan-Nya.
Allah terkadang membuat kita terus menerus gelisah, atau terus menerus mempertanyakan ‘Siapa diri saya ini sebenarnya? Apa tujuan saya?
Apa makna kehidupan saya?,’ dan sebagainya. Bukankah kegalauan semacam ini adalah sebuah seruan, panggilan supaya kita mencari sebuah kesejatian?

Mencari kebenaran? Mencari ‘Al-Haqq’? Allah, percayalah, akan selalu
menurunkan pancingan-pancingan pada manusia untuk mencari-Nya.
Dalam hal ini, Allah amatlah pengasih. Apakah seseorang percaya
kepada-Nya atau tidak, beragama atau tidak, Dia tidak pandang bulu.
Apakah seseorang membaca kitab-Nya atau tidak, percaya pada para
utusan-Nya ataupun tidak, semua orang pernah dipanggil-Nya dengan cara
seperti ini. Setiap orang pasti dipanggil-Nya seperti ini untuk mencari
kesejatian, untuk mencari hakikat kehidupan.
Bentuk ‘pancingan’ semacam ini pula yang dialami oleh para pencari,
maupun para Nabi.

Nabi Ibrahim yang gelisah dan mencari tempat mengabdi
(ilah), yang diabadikan dalam QS 6:74-79. Juga kita lihat Nabi Musa,
misalnya. Setelah hanyut di sungai nil, dia dibesarkan oleh salah seorang
maha raja yang terbesar sepanjang sejarah, Ramses I. Hidup dalam
kemewahan, kecukupan, hanya bersenang-senang. Tapi dia selalu ‘galau’
ketika melihat di sekelilingnya, bangsa Bani Israil, yang ketika itu
menjadi warga mesir kelas rendahan, sebagai budak. Dia yang hidup dengan
ayahnya Ramses I, tentunya setiap hari melihat sisi kemanusiaan ayahnya,
normal saja. Dia mungkin hanya sedikit heran mengapa masyarakat mesir mau menyembah ayahnya.

Hanya saja, kadang kemewahan, kenyamanan, mengubur harta kita yang
sangat berharga itu: potensi kita untuk mencari siapakah diri kita
sebenarnya. Kita disibukkan oleh pekerjaan, dibuai oleh kesibukan,
mengejar kesuksesan kerja, atau ditipu oleh dalih mengejar karir atau
sekolah, atau nyaman bersama keluarga. Sangat sering, ketika hal ini
terjadi, pertanyaan-pertanyaan esensial seperti itu, yaitu potensi
pencarian kebenaran yang kita bawa sejak lahir, yang ketika kanak-kanak
sangat nyata, terkubur dan terlupakan begitu saja seiring waktu kita
menjadi semakin dewasa. Padahal, itu adalah ‘potensi mencari Allah’ yang
Dia bekali untuk kita ketika lahir. Bukan berarti kita harus meninggalkan
semua itu, bukan sama sekali. Tapi, jangan biarkan semua itu
menenggelamkan potensi pencarian kebenaran yang telah Allah turunkan padakita semenjak lahir.

Ketika kita tenggelam dalam dunia seperti itu, kita bahkan tidak
menyadari bahwa kehidupan kita berputar-putar saja dari hari ke hari.
Sekolah, mengejar karir, pergi pagi pulang sore, terima gaji, menikah,
membesarkan anak, menyekolahkan anak, pensiun, dan seterusnya setiap
hari, selama bertahun-tahun. Apakah hanya itu? Bukankah kita tanpa sadar
telah terjebak kepada pusaran kehidupan yang terus berputar-putar saja,
tanpa makna? Celakanya, kita mencetak anak-anak kita untuk mengikuti polayang sama dengan kita. Pada saatnya nanti,
mungkin hidup mereka pun akan mengulangi putaran-putaran tanpa makna yang pernah kita tempuh.Sangat jarang orang yang potensi pencariannya akan Allah belum terkubur.

Dalam hal ini, jika kita masih saja gelisah mencari makna
kehidupan, maka kegelisahan kita merupakan hal yang perlu disyukuri.
Berapa orang, sahabat, yang masih mau mendengarkan kegelisahannya
sendiri? Padahal kegelisahannya itu merupakan rembesan dari jiwa yang
menjerit tidak ingin terkubur dalam kehidupan dunia. Dia ‘menjerit’ ingin
mencari Al-Haqq, dan ‘rembesannya’ kadang naik ke permukaan dalam bentuk kegelisahan.

Sayang, sebagian orang segera membantai kegelisahannya, potensi
pencarian kebenarannya ini, justru pada saat ketika ia timbul; karena
secara psikologis hal ini memang terasa tidak nyaman. Maka untuk
melupakannya, ia semakin menenggelamkan diri lebih dalam lagi dalam
pekerjaannya, kesibukannya, bersenang-senang, atau berdalih menutupi
kegelisahannya dengan berusaha lebih lagi mencintai istri dan anak, atau
keluarga, menenggelamkan diri dalam keasyikan hobi dan sebagainya.
Atau, membantainya dengan kesenangan spiritual sesaat, seperti
datang ke pengajian bukan dengan niat mencariNya tapi hanya untuk
melenyapkan kegelisahannya, seperti obat sakit kepala saja.

Kegelisahan hilang, dia pun pergi lagi.. Atau juga dengan mengindoktrinasi dirinya:"Manusia diciptakan untuk beribadah!!
segala jawaban telah ada di Qur’an!!"
Oke, tapi ibadah yang seperti apa?
Bisakah kita benar-benar beribadah,tanpa mengetahui maknanya? Atau lebih jauh lagi, mampukah kita menjangkau makna Al-Qur’an?

Beranikah kita jujur pada diri kita sendiri: Jika Al-qur’an benar,
mengapa kegelisahannya tidak hilang? Mengapa qur’an seperti kitab suci
yang tidak teratur susunannya? Mengapa ayatnya kadang melompat-lompat,dari satu topik ke yang lainnya secara mendadak?
Jika kita beriman,apakah iman itu?
Apakah takwa itu? Apakah Lauhul Mahfudz?
Apakah Ad-diin?
Apakah Shiratal Mustaqim?
Jalan yang lurus yang bagaimana?
Mengapa qur’an terasa abstrak dan tak terjangkau makna sebenarnya?
Ini sebenarnyapertanyaan-pertanyaan jujur, dan sama sekali bukan menghakimi Al-qur’an.

Kadang orang terus saja mengindoktrinasi dirinya sendiri, padahal
qur’an sendiri menyatakan bahwa tidak ada yang mampu menjangkaunya selain orang-orang yang disucikan/ mutahhiriin, (QS 56:77-79).
[Q.S. 56] "Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat
mulia (77). Pada kitab yang terpelihara (78).
Dan tidak menyentuhnya
kecuali hamba-hamba yang disucikan/ muthahhiriin (79)."

Apakah kita berani yakin bahwa kita adalah seorang yang telah
disucikan, sehingga makna Al-qur’an telah terbentang begitu jelas
dihadapannya?
Jika demikian, apa gunanya pernyataan : "Semua jawaban telah ada di Qur’an" baginya?

Apakah kita akan terus saja membohongi diri
dengan membaca terjemahan Al- qur’an dan memaksakan diri meyakini bahwa kita telah mendapatkan maknanya?
Jeritan jiwanya tersebut kita timbun dengan segala cara. kita tidak
ingin mendengarkannya. Hal ini, sudah barang tentu akan membuat seseorang semakin terperangkap saja dalam rutinitasnya, dan semakin terkuburlah potensi pencariannya akan kebenaran.

Padahal seharusnya ‘jeritan jiwa’
tersebut didengarkan. Jika anak kita menangis karena lapar, apakah kita
akan pergi bersenang-senang untuk melupakannya, dan berharap anak kita
akan berhenti menangis dengan sendirinya?
Bukankah seharusnya kita mencari tahu,
kenapa anak kita menangis?

Kembali kepada kisah Musa as. Demikian pula Musa, ia pun,
sama sebagaimana kita semua, sejak kecil dibekali pertanyaan-pertanyaan
dari dalam dirinya. Dibekali kegelisahan pencarian kebenaran. Bibit-bibitnya
ada. Allah, untuk menumbuhkan bibit-bibit pencariannya itu supaya tidak
terkubur dalam kemewahan kehidupan istana, menyiramnya dengan kebingungan yang lebih besar lagi.
Ia dipaksa-Nya menelan kenyataan bahwa ayahnya pernah membantai
jutaan bayi lelaki Bani Israil. Ia dipaksaNya menelan kenyataan bahwa
ayahnya menganggap Bani Israil adalah warga kelas dua yang rendah, bodoh,dan memang patut diperbudak. Puncaknya, ia dipaksaNya menelan kenyataanbahwa dirinya sendiri ternyata merupakan seorang anak Bani Israil,keturunan warga budak kelas dua, yang dipungut dari sungai Nil.

Pada saat. . . . .
pada diri seorang Pangeran Musa lenyaplah sudah harga dirinya.
Hancur semua masa lalunya. Dia seorang tanpa sejarah diri sekarang.
Ditambah lagi ia telah membunuh seorang lelaki, maka larilah ia
terlunta-lunta, menggelandang di padang pasir, mempertanyakan siapa
dirinya sebenarnya.

Justru, pada saat inilah ia berangkat dengan pertanyaan terpenting
bagi seorang pejalan suluk, yang telah tumbuh disiram subur oleh Allah
dengan air kegalauan: "Siapa diriku sebenarnya?".

Pertanyaan ini telah tumbuh kokoh dalam diri Musa as., dan
sebagaimana kita semua mengetahui kisah lanjutannya, di ujung padang
pasir Madyan ada seorang pembimbing untuk menempuh jalan menuju Allah
ta’ala, yaitu Nabi Syu’aib as, yang lalu menyuruh anaknya untuk menjemput
Musa dan membawa Musa kepadanya.
Di bawah bimbingannya, Musa dididik menempuh jalan taubat, supaya
"arafa nafsahu", untuk "arif akan nafs (jiwa)-nya sendiri". Dan dengan
bimbingan Syu’aib akhirnya ia mengerti dengan sebenar-benarnya (ia telah
‘arif), bahwa dirinya diciptakan Allah sebagai seorang Rasul bagi bangsa
Bani Israil, bukan sebagai seorang pangeran Mesir. Ia menemukan kembali
misi hidupnya, tugas kelahirannya yang untuk apa Allah telah
menciptakannya. Ia telah menemukan untuk apa dia diciptakan, yang
disabdakan oleh Rasulullah SAW: "Setiap orang dimudahkan untuk
mengerjakan apa yang telah Dia ciptakan untuk itu." (Shahih Bukhari no.2026)

Pertanyaan "Siapakah aku? dan,Untuk apa aku diciptakan?"
harus benar-benar telah tumbuh dalam diri kita
(dan itu pun bukan menjadi jaminan bahwa perjalanannya akan
berhasil).
Anda memang telah benar-benar butuh jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan itu.

dan bukan sekedar mengetahui. dan nafsahu berasal dari kata ‘nafs’, salah
satu dari tiga unsur yang membentuk manusia (Jasad, nafs, dan ruh).
Jadi, kurang lebih maknanya adalah
"barangsiapa yang ‘arif (sebenar-benarnya telah mengetahui) akan nafs-nya, maka akan ‘arif pula akan Rabbnya".

Jalan untuk mengenal kebenaran hakiki, mengenal Allah,
hanyalah dengan mengenal nafs terlebih dahulu.
Setelah arif akan nafs kita sendiri, lalu ‘arif akan Rabb kita,
maka setelah itu kita baru bisa memulai melangkah di atas ‘Ad-diin’.
‘Arif akan Rabb, atau sebagaimana kita kenal dalam bahasa Arab disebut ‘Ma’rifatullah’ (meng- ‘arifi Allah dengan sebenar-benarnya),

sebenarnya barulah –awal–
perjalanan, bukan tujuan akhir perjalanan sebagaimana dipahami kebanyakan
orang. Salah seorang sahabat Rasul selalu mengatakan kalimatnya yang
terkenal: "Awaluddiina ma’rifatullah", Awalnya diin adalah ma’rifat
(meng-’arif-i) Allah.

. . . .Robbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idz Hadaitanaa Wa Hab Lanaa Min Ladunka Rohmatan, Innaka Antal Wahhaab. . . .

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Mahapemberi (karunia).” (QS.Ali ‘Imran:8)

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in,
Wallahu A`lam Bish-shawab,

[ditulis oleh seorang sahabat nan fakir yg sangat menginginkan kebaikan padamu dan pada semua mahluk dan berharap bisa berjumpa denganmu suatu saat nanti yg dimana hari itu tidak ada persahabatan yg manfaat kecuali persahabatan yg dilandasi Mahabah karena Allah ta'alla original post by Abu_Nawas *kaskus.us*]

kebahagiaan hidup

December 26th, 2007 by looxie

Kemana engkau akan mencari kebahagiaan hidup? Apakah dengan mendatangi
tempat-tempat hiburan malam dapat memberikan kesejukan hati? Dengan
meneguk minuman beralkohol serta berbelanja sepuas-puasnya di
Mall-Mall? Benarkah segala kegelisahan akan hilang dan kegundahan akan
berganti dengan rasa tenang? Pasti jawabannya tidak.
Semua itu tidak lain akan mendatangkan kegundahan baru. Semakin engkau
bawa diri dan hanyut dalam bentuk seperti itu, maka engkau akan semakin
remuk, perlahan tapi pasti tanpa engkau sadari. Masihkah engkau
mengukur kebahagiaan itu dengan limpahan materi, kedudukan yang tinggi,
dan nama yang sering disebut-sebut dan di puji? Memang engkau tampak
mampu berjalan dengan tenang secara lahiriah, namun batinmu begitu
tersiksa, terasa kosong, hampa, terasa tak bermakna.

Sadarilah saudaraku, sesungguhnya ketenangan dan kebahagiaan yang
engkau cari ada dalam kerelaan dan kesyukuran diri. Sebuah kesyukuran
yang wujud dalam bentuk amal-amal sholehmu dan kelapangan hatimu atas
setiap ketentuan yang menghampiri di setiap detik kehidupanmu.
Berbahagialah engkau, jika setiap kenikmatan yang menghampirimu
menjadikanmu semakin jatuh dalam sujud kesyukuran. Berbahagialah
engkau, ketika musibah tiada henti menerpamu, namun engkau tetap tegar
dan tak berkeluh kesah atasnya.

Tiada usaha kecuali semua dicoba bungkus dengan kain kesabaran. Dan
tiada engkau melihat kedua-duanya kecuali merupakan sebuah bentuk
kebaikan. Sungguh ajaib jika engkau mampu berlaku demikian. Dan hanya
bagi seorang mukmin sajalah semua itu lebih mudah dilakukan.

qurban terbaik

December 19th, 2007 by looxie

 

Kafemuslimah.com

Kuhentikan Mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan Qurban.
Saat pintu Mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku, dengan
spontan aku menutupnya dengan saputangan. Suasana di tempat itu sangat
ramai, dari para penjual yang hanya bersarung hingga ibu-ibu
berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut
menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul
Adha nanti, sebuah
pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dini tentang pengorbanan Nabi Ibrahim & Nabi Ismail.

Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi memilih
hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti. Mataku tertuju pada
seekor kambing coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar melebihi
kambing-kambing di sekitarnya.

" Berapa harga kambing yang itu Pak ?" ujarku menunjuk kambing coklat tersebut.

" Yang coklat itu yang terbesar Pak. Kambing Mega Super dua juta rupiah
tidak kurang" kata si pedagang berpromosi matanya berkeliling sambil
tetap melayani calon pembeli lainnya.

" Tidak bisa turun Pak?" kataku mencoba bernegosiasi.

" Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba Mahal" is pedagang bertahan.

" Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan penawaran pertama

" Maaf Pak, masih jauh." ujarnya cuek.

Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran terendah
berharap si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan harganya.

" Oke Pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?" kataku

" Masih belum nutup Pak " ujarnya tetap cuek

" Yang sedang Mahal kan harga minyak Pak. Kenapa kambing ikut naik?" ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.

" Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa
datang ke sini sendiri.Tetap saja harus di angkut Mobil Pak, Dan Mobil
bahan bakarnya bukan rumput" kata is pedagang meledek.

Dalam hati aku berkata, a lot juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan
harga selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku
alihkan ke kambing lainnya yang lebih kecil dari is coklat. Lumayan
bila Ada perbedaan harga lima ratus ribu. Kebetulan dari tempat penjual
kambing ini, aku berencana ke toko ban Mobil.

Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya.
Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini
selangit.

" Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?" kataku kemudian

" Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu
rupiah" katanya Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang
kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi. Meskipun pakaian
"korpri" yang Ia kenakan lusuh, tetapi wajahnya masih terlihat segar.

" Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?" katanya kagum

" Dua juta tidak kurang tidak lebih kek." kata is pedagang setengah malas menjawab setelah melihat penampilan is kakek.

" Weleh larang men regane (Mahal benar harganya) ?" kata is kakek dalam
bahasa Purwokertoan " bisa di tawar-kan ya mas ?" lanjutnya mencoba
negosiasi juga.

" Cari kambing yang lain aja kek. " is pedagang terlihat semakin malas meladeni.

" Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik LAN gagah Qurban taun iki
(Aku mau yang terbaik Dan gagah untuk Qurban tahun ini) Duit-e
(uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas." katanya tetap
bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya.
Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di bukanya, enam
belas lembar uang seratus ribuan Dan sembilan lembar uang lima puluh
ribuan dikeluarkan dari dalamnya. " Iki (ini) dua juta rupiah mas.
Weduse (kambingnya) dianter ke rumah ya mas?" lanjutnya mantap tetapi
tetap bersahaja.

Is pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang memperhatikannya
sejak tadi. Dengan wajah masih ragu tidak percaya is pedagang menerima
uang yang disodorkan is kakek, kemudian dihitungnya perlahan lembar
demi lembar uang itu.

" Kek, ini Ada lebih lima puluh ribu rupiah" is pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan

" Ora Ono ongkos kirime tho…?" (Enggak Ada ongkos kirimnya ya?) is kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih

" Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" is pedagang yg cukup jujur
memberikan lima puluh ribu ke kakek " mau di antar ke mana mbah?"
(tiba-tiba panggilan kakek berubah menjadi mbah)

" Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di tabung neh (bisa
ditabung lagi)" kata si kakek sambil menerimanya " tulung anterke ning
deso cedak kono yo (tolong antar ke desa dekat itu ya), sak sampene
ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid Baiturrohman, takon ae
umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Pasir
Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah anak-anak sudah
tahu)."

Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di
sepakatinya,si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua yang di
sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari X-trail milikku.
Perlahan di angkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di kayuhnya
tetapdengan semangat.

Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya
berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku. Kakek tua pensiunan
pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda engkol, sanggup membeli
hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya.Aku tidak tahu persis berapa
uang pensiunan PNS yang diterima setiap bulan oleh si kakek. Yang aku
tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang berdiridengan
mewah, rata-rata penduduk ekitar desa Pasir Mukti hanya petani dan para
pensiunan pegawai rendahan.

Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding penghasilanku
sebagai Manajer perusahaan swasta. Yang sanggup membeli rumah di
kawasan cukup bergengsi Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang
harga ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super Yang sanggup
mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan memilikinya Yang
sanggup membeli hewan
Qurban dua ekor sapi sekaligus

Tapi apa yang aku pikirkan? Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang
jauh di bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari service rutin
mobil X-Trail, kendaraanku di dunia fana. Sementara untuk kendaraanku
di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali saat membelinya.

Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia balikkan hati
hambaMu yang tak pernah berSyukur ini ke arah orang yang pandai
menSyukuri nikmatMU

(untuk qta renungkan :) )

CINTAANEH DAN NAPSU

December 13th, 2007 by looxie

cinta sebuah misteri kehidupan. datang dan
pergi tak terduga. membawa ngin kesejukan namun bisa menghantam
kehidupan bagai badai. aduh…..pokoknya kita gak tau mesti berbuat apa
dengan cinta. kadangkala manusia sering menyamakan cita dengan nafsu.
tapi apa itu benar ?

cinta dan nafsu berjalan beriringan. ada cinta ada nafsu. namun jangan
salah, dewasa ini ada juga nafsu tanpa dilandasi dengan cinta.

sekarang terserah kita sebagai manusia yang menjalaninya. jangan
seperti binatang, kalau ada hasrat kita melakukannya tanpa dasar
cinta…..

Karena Saya Bukan Orang Baik

December 3rd, 2007 by looxie
Karena Saya Bukan Orang Baik

dec, ‘02 12:04 AM
for everyone

Saya tidak tahu, apa yang terlintas dalam pikiran anda, ketika membaca judul tulisan diatas. Mungkin heran, lucu, aneh, penasaran, sebel, atau….Entahlah! Yang paling tahu, tentu anda sendiri bukan…?

Apapun reaksi dan perasaan anda, bagi saya no problem. Namun yang jelas, itu bukan hanya sekedar wacana. Itu adalah pengakuan dan pernyataan saya yang sejujur-jujurnya mengenai diri saya. Sesuai dengan keadaan diri saya yang sebenarnya.

Tadinya, saya pun tidak begitu menyadari hal itu. Saya baru ngeh, ketika saya mendapat dua buah pertanyaan yang membuat kening saya agak berkerut…

Apakah Anda merasakan perubahan dalam kehidupan anda selama ini…?

Pertanyaan itu sempat membuat saya merenung…Bagaimana tidak! Selama ini, saya asyik-asyik saja menjalani kehidupan ini. Mengalir begitu saja, tanpa pernah memikirkan ini dan itu. Asal punya uang, perut selalu kenyang dan tak pernah punya utang…Semua itu sudah membuat saya merasa senang dan selalu riang.

Dan sepertinya bukan hanya saya, tapi banyak juga orang-orang di sekeliling saya—mungkin termasuk juga anda, he..he..—yang cukup merasa puas dan enjoy-enjoy saja dengan keadaannya sekarang ini.

Pertanyaan itu terasa mengusik dan menggelitik, sehingga saya menjadi penasaran ingin mencari tahu jawabannya. Memaksa saya untuk mau berfikir tentang diri saya, tentang hidup dan kehidupan saya. Dan saya pun mulai bertanya-tanya pada diri saya sendiri. Benarkah saya harus berubah? Bukankah tanpa keinginan untuk berubah pun, selama masih hidup, kita akan mengalami perubahan?

Perubahan dalam hidup adalah sesuatu yang alamiah. Kita di sebut hidup karena kita berubah. Tidak ada yang tidak berubah dalam hidup ini, kecuali perubahan itu sendiri. Disadari ataupun tidak. Segala sesuatu yang ada pada diri kita dan segala sesuatu yang ada di sekeliling kita terus berubah.

Selama masih hidup kita akan terus mengalami perubahan. Sebagai contoh; dulu kita kecil, lalu berubah menjadi besar. Sekarang kita muda-belia, perlahan-lahan akan berubah menjadi tua. Sebelumnya kita tidak tahu apa-apa, sekarang sudah lumayan cukup banyak yang kita ketahui. Dan perubahan-perubahan yang lainnya, yang tak mungkin saya tuliskan semuanya di sini. Karena tentu anda akan cape membacanya dan saya pun pegel menuliskannya…

Dulu Pak SBY pernah gembar-gembor bahwa ’perubahan itu semakin dekat’. Saya pikir, ada benarnya juga! Perubahan memang akan membuat kita semakin dekat. Perubahan akan mendekatkan kita pada kemajuan atau pada kehancuran. Buktinya bisa kita lihat sekarang ini…!

Hanya ada dua dampak dari perubahan, menjadi lebih baik atau lebih buruk. Idealnya sih, kita harus berubah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Supaya hidup kita lebih bermakna, lebih bermanfaat dan lebih beruntung. Sebagaimana kata Rasulullah: “Barang siapa yang hari ini lebih jelek daripada hari kemarin, maka ia termasuk orang yang celaka. Barang siapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang rugi. Dan barang siapa hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung”

Sekarang tinggal terserah kita! Lebih cenderung kemana? Ingin menjadi orang yang celaka, orang yang merugi atau orang yang beruntung..? Memang ini bukan pilihan yang mudah, perlu tekad yang kuat dan kegigihan yang luar biasa untuk merealisasikannya. Mau tidak mau kita harus berubah menjadi lebih baik, kalau kita ingin beruntung. Berusaha merubah diri sendiri, atau perubahan yang akan memaksa merubah kita…

Orang yang beruntung, setiap waktu selalu bertambah ilmu, iman dan amalnya. Orang yang beruntung selalu ingin menjadi lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi dari waktu sebelumnya. Orang yang beruntung selalu punya tekad dan semangat untuk selalu memperbaiki dirinya, memperbaiki kehidupannya…

Mengapa kita harus memperbaiki kehidupan kita…?

Ini pertanyaan kedua yang mengusik saya. Saya pun kembali mengerutkan kening untuk yang kedua kalinya. Mencari seribu satu alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu.

Dan setelah melewati perenungan yang cukup panjang dan dalam. Akhirnya saya menemukan sebuah kesimpulan sebagai jawaban dari pertanyaan diatas. Sebuah jawaban yang membuat saya merasa tentram dan nyaman.

Mengapa kita harus memperbaiki kehidupan kita…?
Kini saya bisa menjawab pertanyaan itu dengan yakin dan penuh rasa percaya diri. 
”Karena Saya Bukan Orang Baik…!”
Bagaimana dengan anda….?

Maaf, Aku Bukan Orang Baik

November 26th, 2007 by looxie

Maaf, Aku Bukan Orang Baik Nov
22, ‘07 10:20 PM
for everyone

Mala m gelap tak berbintang, anginpun
tidak berhembus kencang. Pintu itu
sudah dibukakan oleh tangan-tangan
gem pal tak berbulu. Senyum ramah
dipaksakan menyambut ayunan langkah
kaki. Kerlipan lampu berwarna warni
temaram menggantikan indahnya kunang-
kunang. Dentuman musik hingar-bingar
men debarkan dada ini, serasa jantung
ingin keluar dari rongga tulang iga.

Botol-bo tol minuman tertata rapi
diatas meja, asbak kaca sebesar piring
makan masih bersih mengkilap. Lengan
halus lemah gemulai siap menggelayut
diata s pundak ketika sodoran butiran
kecil pahit masuk kedalam mulut yang
masih mengepul asap rokok putih. Air
mineral yang harganya saat itu hampir
sepuluh kali lipat dari biasanya mulai
membasahi kerongkongan.

Tak lama terduduk disitu, kaki mulai
lemas, telapak tangan seperti membeku.
Dentuman musik memaksa kepala
bergoyang, rahang menjadi kaku, bahu
bergerak kesana kemari, tangan
melambai-l ambai dan kaki tidak mau
terdiam. Enam jam dalam kegaduhan,
enam jam dalam kegembiraan, enam jam
dalam khayalan, enam jam dalam
kebosanan, enam jam dalam kepalsuan.

Pa gi menyapa tak terasa diruangan ber-
ac namun pengap dan berasap. Disudut
sana ada yang tergeletak tak berdaya,
disebera ng sana ada yang masih
bergoyang, didepan ada yang tertidur,
dibelak ang masih banyak yang
kebingungan, dan disini ternyata sudah
gelisah berteman bidadari sesaat yang
terkapar dalam pelukan Arjuna dalam
kepalsuan.< BR>
Maaf kawan, aku bukan orang baik. Ini
adalah hidupku, hampir setiap hari aku
begini. Uang tak mudah dicari, namun
mudah sekali melepaskannya. Sampaikan
salamku untuk mereka disana. Jangan
sampai mereka mengikuti jalanku,
jauhilah sudut kota dimana tempat
semacam ini menjadi santapan sehari-
hari. (sb)

(Pes an seorang sahabat yang masih
silau akan kenikmatan dunia. Seorang
sahabat yang berat meninggalkan
kepa lsuan ini. Seorang sahabat yang
ingin menjadi seperti dirinya yang
dahulu, namun… terasa berat.)